Humas
Biringkanaya, Kamis 29 Mei 2026. Kantor Urusan Agama Biringkanaya melakukan layanan Bimbingan
Perkwinan (BIMWIN) mandiri di Aula Kantor Urusan Agama Biringkanaya. Peserta
yaitu satu pasang WNI Nurbayanti Letsoin dan WNA Tunisia Houssen Ben Mohamed
Ridha Soussou.
Fasilitator Muh. Alwi membawakan Materi Psikologi dan Dinamika Keluarga. Materi tersebut membahas 4 (empat) pokok bahasan yaitu 1) Komponen Penting dalam hubungan pasangan suami istri, 2) Tahap Perkembangan Hubungan, 3) Penghancur dan Pembangunan Hubungan, dan 4) Mengelola Konflik. Komponen pentingan dalam hubungan fasilitator menggunakan pendekatan teori Robert Sternberg Triangular Theory of Love. Menurut Robert Stenrberg ada 3 (tiga) komponen penting yang sangat berpengaruh terhadap pasangan suami istri, yaitu:
A. Komponen Penting dalam hubungan
1. Kedekatan Emosi (intimacy),
Kedekatan emosi bagaimana pasangan suami istri merasa saling memiliki,
saling terhubung dua pribadi menjadi satu Kedekatan emosi ini membuat suami
istri merasa tentram.
2. Gairah (Passion)
Gairah adalah bagaimana dalam hubungan suami istri itu tercipta
keinginan untuk mendapatkan kepuasan fisik dan seksual. Jadi salah satu tujuan
perkawinan adalah menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan.
3. Komitmen (Commitment)
Komitmen, yaitu bagaimana pasangan suami-istri mengikat janji untuk menjaga hubungan mereka
agar tetap lestari dan membawa kebaikan bersama. Di dalam Alquran disebutkan perkawinan sebagai ikatan yang kokoh (mitsaaqan
ghalizhan, QS. An-Nisa, 4: 21).
B. Tahap Perkembangan Hubungan
1. Tahap BLENDING (Berbaur
ada kecocokan) 12 – 18 bln
Pada masa ini kita pada tahap memberi, memberi dan memberi. Kenapa?
Karena itu tahap menyatu 12 – 18 bulan. Waktu kita mulai berkomitmen apa-apa
kita kayaknya berikan, maka judul pasenya dinamakan blending.
2. Tahap NESTING (Bersarang) 2 – 3 tahun
Kita mulai membangun sarang. Sarangnya berupa apa? Sudah punya rumah,
entah itu ngontrak, atau rumah pemberian orang tua, punya rumah sendiri jadi
sudah membangun sarang. Pada tahap Blending bagi perokok dan tinggal di rumah
mertua, merokoknya di teras rumah. Karena kenapa menghargai pasangan yang tidak
merokok. Begitu masuk pase bersarang (nesting) mulai muncul begini, ini sarang,
sarang aku, kepentingan aku juga dongà mulai merokok di dalam rumah, di
ruang tamu. Karena kenapa, kebutuhan atau pertimbangan pribadi mulai muncul di tahap
ini. Beda di tahap blending tidak ada
pertimbangan pribadi, demi kamu semuanya.
3. Tahap AFIRMASI kebutuhan pribadi (3 – 4 tahun)
Disini sudah muncul: saya, saya dan saya, kalau pase sebelumnya belum
muncul saya à
mulai terasa kebutuhan pribadinya. Kalau disini muncul kamu sudah tidak pernah
kasi uang kepada orang tuaku. Sudah mulai begitu, kamu itu berubah ya,
weekennya tidak pernah lagi di rumah ibu saya à mulai muncul banyak kebutuhan pribadi.
Tantangan kita disini adalah kompromi atau mencari titik tengah. Mas aku
dari kecil, aku selalu menomorsatukan untuk berbakti kepada orang tua. Jadi
bagi aku penting, setelah aku bekerja Sebagian dari income itu untuk orang
tuaku. Kompromi atau mencari titik tengah
adalah pekerjaan rumah (PR) kita di tahun 3 dan 4, dan memasuki tahun ke
5 kebanyakan suami istri yang bercerai. Kalau lulus di tahun itu masuk ketahap
selanjutnya.
4. Tahap
Kolaborasi (5 – 14 tahun)
Kalau tahap kolaborasi pasangan suami istri yang bisa memasuki pase ini
dengan baik, yaitu Ketika dia melihat dirinya sendiri dia melihat
kekurangannya, melihat pasangannya dia melihat kelebihannya. Kalau bukan karena
pasangannya rumah saya berantakan, kalau bukan pasangan saya tidak hemat uang
saya habis. Begitu cara melihatnya. Saya yang kurang dan dia lebih menutupi
kelemahannya saya begitu cara memandang kita, maka kitab bisa berkolaborasi
karena kita sudah tahu trend point saya apa, trend point dia apa à Begitu ini tahap kolaborasi tahun 5
sampai 14 tahun.
5. Tahap
Penyesuaian (15 – 24 tahun)
Kalau disini biasanya anaknya sudah besar, sudah pada kuliah, begitu.
Sudah mulai dipuncak karier. Yang menarik adalah karena kita merasa saling
kenal, sudah kenal banget, maka sering menggampangkan. Kalau kita melihat orang
tua kita cara mereka memandang pasangannya, kalau ayah memandang ibu kita, dan
kalau ibu memandang ayah kita. Sering muncul kalau menggampangkan itu sering
kali terjadi. Ahà Bapak kamu memang begitu orangnya, kerena ini
natural.
Tantangannya apa? Tantangan adalah membangun komunikasi yang lebih
empati, bahwa setiap orang tumbuh dan berkembang, bahwa pasangan kita akan
tumbuh dan berkembang. Disini kita menjadi pendengar yang baik.
6. Tahap
Pembaharuan (tahun 25 ke atas)
Banyak pasangan lanjut usia yang menunjukkan kedekatan emosi yang kuat,
dan hubungan yang romantis. Ini terjadi karena setelah 25 tahun, pasangan suami
istri sudah menjalani manis-pahitnya kehidupan perkawinan Bersama-sama. Mereka
menemukan Kembali rasa Bahagia karena memiliki cinta yang teruji dan pasangan
jiwa yang bisa diandalkan.
C. Penghancur
Hubungan dan Pembangunan Hubungan
1. Penghancur
hubungan, yaitu: a) CRITICISM
(Sikap Menyalahkan) Dimana pasangan suami istri tidak dapat melihat
kebaikan dan keunggulan dari pasangan, dan tidak melihat kesalahan diri sendiri
yang menyebabkan terjadinya pertengkaran; b) COMTEMPT (Sikap membenci
dan Merendahkan) Ciri-cirinya suami/istri menunjukkan bahwa pasangannya bukan
pasangan yang baik, membandingannya dengan orang lain, dan menunjukkan
kebencian dan mengungkit berbagai kelemahan pasangan. Misalnya ketika istri
mulai mengatakan “Aku menyesal menikah dengan kamu kalau dulu aku memilih
menikah dengan dia pasti hidupku sudah kaya raya dan bahagia”; c) DEFENSIVE (Sikap membela diri dan
mencari alasan) Ciri-cirinya suami istri menganggap bahwa sikap atau prilaku
yang salah disebabkan oleh faktor di luar dirinya; dan d) STONE WALL (Sikap
mendiamkan mengabaikan) Ciri-cirinya suami istri memilih untuk mendiamkan
pasangannya dengan alasan tidak ingin bertengkar, suami istri justru bersikap
diam “pasifà
agresif yaitu menyerang dari dalam secara diam-diam.
2. Pembangunan Hubungan, dalam buku “The
Five Love Languanges” karya Dr. Gary Chapman konsep bahasa cinta (love
language) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara unik dalam mengekspresikan
dan menerima cinta, yaitu: a) Words of Affirmation (Kata-kata
Pendukung) Words of Affirmation merupakan bahasa cinta yang berupa
untaian kalimat atau kata-kata cinta dan kasih sayang. Words of affirmation
bisa dikatakan sebagai bentuk penegasan bahwa anda benar-benar menyayangi
mereka. Contoh: Aku sayang kamu, Aku sangat bangga padamu,
Terima kasih sudah memilih aku menjadi pasanganmu, b) Physical Touch (Sentuhan
Fisik). Physical touch termasuk cara meng-ekspresikan cinta melalui
sentuhan fisik. Tapi, jenis physical touch yang ditunjukkan dapat
berbeda tergantung pada siapa tujuannya. Misalnya physical touch kepada
pasangan tentu akan berbeda kepada orang tua, anak atau sahabat. Contoh: Selalu
mencium pasangan sebelum pergi atau ketika tiba dari suatu tempat, c) Quality
Time (Waktu yang berkualitas) Quality time yaitu menghabiskan waktu bersama
orang-orang tersayang secara berkualitas. Bahasa cinta Quality time ini sangat
mengutamakan kebersamaan atau bisa memberi waktu dan kasih sayang sepenuhnya
pada moment tersebut. Mematikan ponsel saat ada dan pasangan sedang
bercakap-cakap atau melakukn sesuatu secara bersama. Meluangkan waktu untuk saling cerita
satu sama lain dengan pasangan, d) Acts of Service (Pelayanan) Acts of service adalah bahasa cinta yang ditunjukkan dengan
cara memberi sesuatu tindakan atau melayani. Tindakan tersebut bisa terjadi
secara spontan atau atas dasar inisiatif sendiri. Contoh: Membawakan
makanan tanpa diminta, memberi perhatian dari hal-hal sepele, membawakan barang
sebelum diminta tolong dan Inisiatif membantu pasangan dalam mengerjakan
pekerjaan, e) Receiving Gifts (Pemberian hadiah) Receiving Gifts
memperlihatkan rasa cintanya dengan memberikan hadiah atau menerima hadiah,
mereka merasa dihargai, diingat dan disayang. Contoh memberikan kartu ucapakan ketika
ulang tahun, anniversary atau moment tertentu, memberikan hadiah yang bersifat pribadi untuk
pasangan.